{"id":995,"date":"2020-07-07T01:27:37","date_gmt":"2020-07-07T01:27:37","guid":{"rendered":"http:\/\/campsholawat.com\/?p=995"},"modified":"2020-07-07T01:27:38","modified_gmt":"2020-07-07T01:27:38","slug":"kisah-kisah-fadhilah-keajaiban-dan-khasiat-sholawat-nabi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/kisah-kisah-fadhilah-keajaiban-dan-khasiat-sholawat-nabi\/","title":{"rendered":"Kisah-Kisah Fadhilah Keajaiban dan Khasiat Sholawat Nabi."},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Membaca Sholawat Nabi menawarkan kecintaan seorang muslim kepada  nabinya. Shalawat Nabi memang salah satu dzikir yang sangat dianjurkan  menjadi amalan rutin bagi siapa saja. Karena sholawat yakni perintah  pribadi dari Allah yang termaktub dalam al-Qur\u2019an. Bahkan dinyatakan  dalam ayat itu bahwa Allah dan para Malaikat-Nya pun bersholawat kepada  Nabi.\u00a0 Melihat ini tentu bacaan sholawat ini yakni sesuatu yang sangat  berskor.           <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> <strong>Macam-Macam Jenis Sholawat Nabi<\/strong>    <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Di masyarakat muslim\u00a0 di seluruh dunia, utamanya di Indonesia, ada\u00a0  banyak macam sholawat yang dikenal. Ada Sholawat Nabi, Sholawat Jibril, Sholawat Nariyah, Sholawat Nuridzati,  Sholawat Nuril Anwar, Sholawat Fatih, Sholawat Thibbil Qulub dan  sebagainya. Semuanya yakni merupakan pernyataan cinta penyusunnya dan  juga pembacanya kepada baginda Nabi Shollallahu \u2018alaihi wasallam.    Meski ada yang tidak baiklah dengan macam-macam sholawat yang ada,  namun berdasarkan ekonomis penulis tiruananya yakni ungkapan perasaan  cinta kepada Rasulullah dari umatnya. Dan penyusunnya yakni para ulama  yang tentu saja mempunyai ilmu yang sangat tinggi dibanding kita  generasi kurun ini.    <strong>Kisah-Kisah \u00a0Keajaiban Sholawat<\/strong>    Kisah pertama dialami oleh KH.Ahmad Masduqie Machfudzh yang ditulis di web <em>nu online. <\/em>Shalawat  dan shalat jamaah yakni dua \u201csenjata\u201d Achmad Masduqie Machfudh. Tiap  mendapatkan aduan duduk perkara dari masyarakat, ia selalu beramanat  untuk membaca shalawat, minimal 1000 kali setiap hari dan 10.000 kali  setiap malam Jum\u2019at.    Rais Syuriyah PBNU periode 2010-2015 yang juga pendiri Pondok Pesantren  Salafiyah Syafi\u2019iyyah Nurul Huda Mergosono Malang ini mempunyai  pengalaman menarik wacana shalawat Nabi, tepatnya pada tahun 1956,  ketika ia masih duduk di sebuah SLTA di Yogjakarta.    Suatu kadab, ia menerima gangguan jin di sebuah masjid kawasan  belajarnya sehingga selama tiga hari Maduqie muda merasa ingin banyak  makan tapi anehnya tidak sanggup  membuang hajat. Di hari ke empat,  tubuhnya pun sangat gerah dan ketika itu juga ia berpesan kepada  adiknya.    \u201cDek, nanti kalau saya mati, tolong jangan bawa pulang janazahku ke  Jepara tetapi dikuburkan di Jogja saja,\u201d pinta kiai yang wafat pada 1  Maret 2014 ini kepada sang adik. Kiai Masduqie tiba ke Jogja berniat  untuk mondok. Beliau khawatir syahidnya hilang jikalau wafat di Jogja  namun jenazahnya dimakamkan di Jepara.    Sontak saja adiknya semakin khawatir kondisinya. Maka diajaklah sang  abang menemui seorang seorang kiai. \u201cMari kita pergi ke kiai itu, kiai  yang Mas biasa ngaji di hari Ahad.\u201d    Kiai Masduqie mendapatkan permintaan adiknya. Pergilah ia bersama  adiknya dengan naik becak dan hingga di rumah pak kiai yang di maksud  pada pukul satu malam. Kadab ia datang, pintu rumah Pak Kiai masih  terbuka. Tentu tengah malam itu sang tuan rumah sudah tidak melayani  tamu, alasannya yakni semenjak pukul 10 malam yakni waktu khusus Pak  Kiai untuk ibadah kepada Allah. Karena melihat Masduqie muda yang tiba  di tengah malam dengan keadaan payah, kiai pun mempersilahkan Masduqie  muda diberistirahat di rumah.    Masduqie muda pun tertidur di rumah kiai itu. Baru beberapa jam di  rumah kiai, tepatnya pukul 3 malam, ia terbangun alasannya yakni merasa  mulas ingin membuang hajat. Setelah itu, rasa sakit dan gerah yang  dirasakan sedikit hilang.    Pada pagi harinya, ia yang masih gerah badannya bertemu dengan Pak  Kiai. \u201cPak Kiai, saya sakit\u201d. Bukannya merasa iba, Pak Kiai hanya  tersenyum. Dan anehnya, rasa gerah yang ia rasakan hilang sekadab itu.     Pak Kiai dawuh, \u201cMas, sampean gendeng mas.\u201d   <br>  \u201cKenapa gendeng, Yai?\u201d tanya Masduqie muda.    \u201cIya, wong bukan penyakit dokter, sampean kok bawa ke dokter, ya uang  sampean habis. Pokoknya kalau sampean kepengin sembuh, sampean tidak  boleh pegang kitab apapun,\u201d balasan kiai.    Jangankan membaca, menyentuh saja tidak diperbolehkan. Padahal pada  ketika itu, Masduqie muda dua bulan lagi akan mengikuti ujian selesai  sekolah.     \u201cYai, dua bulan lagi saya ujian, kok enggak boleh pegang buku,\u201d Masduqie muda matur kepada Pak Kiai.    Sekadab itu Pak Kiai menanggapinya dengan marah-marah, \u201cYang bikin kau lulus itu gurumu? Apa bapakmu? Apa mbahmu?\u201d    Masduqie muda menjawaban, \u201cPada hakikatnya Allah, Yai.\u201d    \u201cLha iya gitu!\u201d timpal Pak Kiai.    \u201cLalu bagaimana syariatnya (upaya yang dilakukan), Yai?\u201d tanya Masdqie muda lagi.    \u201cTiap hari, kau harus baca shalawat yang banyak,\u201d jawaban, Pak Kiai.     Masduqie muda kembali bertanya, \u201cBanyak itu berapa, Yai?\u201d    Pak Kiai pun menjawaban, \u201cYa paling sedikit seribu, habis baca 1000  shalawat, minta \u2018dengan berkat shalawat yang saya baca, saya minta lulus  ujian dengan skor bagus\u2019.\u201d    Ya sudah, Masduqie muda tidak berani pegang kitab maupun buku,  alasannya yakni memang ingin sembuh. Mendengar dongeng dari Masduqie  muda, Paman ia marah-marah. \u201cBagaimana kau ini? Dari Jepara ke sini, kau  kok nggak belajar?\u201d Masduqie muda tidak berani komentar apa-apa. Karena  ia menuruti\u00a0 dawuh kiai untuk tidak menyentuh kitab atau buku, ia nurut  saja.     Menjelang ia ujian, pelajaran bahasa Jerman, bukunya ternyata diganti  oleh gurunya dengan buku yang baru. Karena masih dihentikan menyentuh  buku, maka ia tetap taat titah kiai.    Setelah ujian, Masduqie muda dipanggil guru bahasa Jerman.     Pak Guru\u00a0\u00a0\u00a0 : Kamu her (remidi\/mengulang)    Masduqie\u00a0\u00a0 : Berapa skor saya pak?    Pak Guru \u00a0\u00a0\u00a0: Tiga!    Masduqie\u00a0\u00a0\u00a0 : Iya, Pak. Kapan, Pak?    Pak Guru\u00a0\u00a0\u00a0 : Seminggu lagi\u00a0     Namun sesudah seminggu, Masduqie muda tidak pribadi mendatangi guru  bahasa Jerman, alasannya yakni larangan pegang buku belum selesai. Baru  sesudah selesai, Masduqie muda mendatangi Pak Guru.     Masduqie\u00a0\u00a0\u00a0 : Pak, saya minta ujian, Pak.    Pak Guru\u00a0\u00a0\u00a0 : Ujian apa?    Masduqie\u00a0\u00a0\u00a0 : Ya ujian bahasa Jerman, Pak.    Pak Guru\u00a0\u00a0\u00a0 : Lha kau terbelakang apa?    Masduqie\u00a0\u00a0\u00a0 : Lho kenapa, Pak?    Pak Guru\u00a0\u00a0\u00a0 : Nilai delapan kok minta ujian lagi. Kamu itu minta skor berapa?    Masduqie\u00a0\u00a0\u00a0 : Lho, ya sudah Pak, barang kali sanggup  skor sepuluh.    Dari skor angka 3, alasannya yakni shalawat, alhasil <em>mingkem <\/em>menjadi  angka 8. Setelah itu, ia tidak pernah meninggalkan baca shalawat.  Itulah satu pengalaman shalawat KH Masduqie Mahfudz ketika muda.   <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> <strong>Kisah keajaiban sholawat 2<\/strong>    <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Juga dialami oleh KH. Ahmad Masduqie Mahfudh sebagai Wasilah untuk  Atasi Penyakit dan Kesusahan. Pengalaman shalawat ia lagi, yakni kadab  Kiai Masduqie harus melakukan dinas dinas di Tarakan, Kalimantan Timur.  Pada suatu hari, ada tamu pukul 5 sore, dan bilang ke Kiai Masduqie,  \u201cSaya disuruh oleh ibu, disuruh minta air tawar.\u201d     Kiai Masduqie mengaku masih terbelakang ketika itu. Sekadab itu ia  menjawaban, \u201cYa, silakan ambil saja, air tawar. kan banyak itu di  ledeng-ledeng itu.\u201d    \u201cBukan itu, Pak. Air tawar yang dibacakan doa-doa untuk orang sakit itu, Pak,\u201d kata si tamu.     \u201cO, kalau itu ya tidak sanggup  sekarang. Ambilnya harus besok habis shalat shubuh persis.\u201d    Kiai Masduqie menjawaban begitu alasannya yakni ia ingin bertanya  kepada sang istri perihal abah mertua yang sering nyuwuk-nyuwuk (membaca  doa untuk mengobati) dan ingin tahu apa yang dirapalkan. Ternyata istri  ia tidak tahu wacana doa yang dibaca abahnya di rumah. Padahal Kiai  Masduqie sudah janji.     Habis isya\u2019 ketika ia harus wiridan membaca dalail, ia menemukan hadits  wacana shalawat. Inti hadits tersebut kurang ludang keringh, \u201cSiapa  yang baca shalawat sekali, Allah diberi rahmat sepuluh. Baca shalawat  sepuluh, Allah diberi rahmat seratus. Baca shalawat seratus, Allah  diberi rahmat seribu. Tidak ada orang yang baca shalawat seribu, kecuali  Allah mengabulkan permintaanya.\u201d    Setelah mencari di aneka macam kitab, ketemulah hadits tersebut sebagai  jawabanannya. Lalu belaiu pun bangkit di\u00a0 tengah malam, mengambil air  wudlu dan air segelas, sesudah itu membaca shalawat seribu kali.  Allahumma shalli wa sallim \u2018ala sayyidin\u00e2 Muhammad.    Setelah ia selesai membaca seribu shalawat, ia berdoa, \u201dAllahumaj\u2019al  hadzal ma\u2019 daw\u00e2-an liman syarabahu min jam\u00ee\u2019il amr\u00e2dh\u201d. Arti doa  tersebut, \u201cYa allah, jadikanlah air ini sebagai obat dari segala  penyakit bagi peminumnya\u201d. Lalu meniupkan ke air gelas dan baca shalawat  satu kali lagi. Di pagi hari, didiberikanlah air tersebut kepada orang  yang memintanya.    Setelah tiga hari, ada diberita dari orang tersebut bahwa si penderita  penyakit sudah sembuh sesudah meminum air dari Kiai Masduqie. Padahal,  sakitnya sudah empat bulan dan belum ada obat yang sanggup   menyembuhkan. Dokter pun sudah tidak sanggup menangani penyakit yang  diderita orang ini dan menyarankan untuk mencari obat di luar. Anehnya,  pemdiberi kabar itu menyampaikan bahwa Kiai Masduqie selama tiga hari  itu mengelus-elus perut orang yang sakit.     Mengelus-ngelus perut? Tentu saja tidak, apalagi si penderita penyakit  yakni perempuan yang bukan mahramnya. Hal itu juga tidak mungkin  alasannya yakni Kiai Masduqie selama tiga hari di rumah saja. Berkat  shalawat, atas izin Allah penyakitnya sembuh.    Sejak insiden itu di Kalimantan timur Kiai Masduqie dikenal sebagai  guru agama yang cerdik nyuwuk. Sampai penyakit apa saja sanggup   disembuhkan. Jika ia tidak membacakan shalawat, ya istri ia mengambilkan  air jeding, yang sudah digunakan untuk wudlu. Ya sembuh juga  penyakitnya. Inilah pengalaman shalawat Kiai Masduqie kadab dinas di  Kalimantan.    <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Kisah-kisah lain wacana keajaiban dan khasiat Sholawat <\/strong>    Cerita lain, suatu kadab ia harus ke Samarinda dengaan naik kapal  pribadi milik Gubernur Aji Pangeran Tenggung Pranoto. Dalam pertengahan  perjalanan melalui laut, tepatnya di Tanjung Makaliat kapal yang  diinaikinya tidak sengaja angin puting beliung. Maka goyang-goyanglah  kapal tersebut. Kiai Masduqie sadar, berwudlu, kemudian naik ke atas  kapal. Beliau ajak para awak kapal untuk mengumandangkan adzan semoga  malaikat pengembus angin dahsyat tersebut berhenti. Lalu berhentilah  angin tersebut. Inilah salah satu pengalaman shalawat Kiai Masduqie.     \u201cKalau ada orang menderita penyakit aneh-aneh, tiba ke Mergosono, insya  Allah saya bacakan shalawat seribu kali. Kalau ndak mempan sepuluh ribu  kali, insyaallah qabul,\u201d kata Kiai Masduqie ketika pengajian di Majelis  Riyadul Jannah.    \u201cBerkat shalawat Nabi, sampean tahu sekarang, saya bangkit pondok  hingga tingkat tiga, nggak pernah minta sokongan dana masyarakat,  mengedarkan edaran, ajuan nggak pernah. Modalnya hanya shalawat saja.  Uang yang tiba ya ada juga, tapi nggak habis-habis. Itu berkat  shalawat,\u201d lanjut Kiai Masduqie dalam pengajiannya.    Kisah lainnya, suatu kadab, seorang bidan mengadu kepada Kiai Masduqie  wacana suaminya yang pergi meninggalkannya alasannya yakni terpikat  dengan perempuan lain. Ia berharap suaminya sanggup  kembali. Abah,  demikian para santrinya menyapa, menjawaban bidang tersebut dengan tegas  menganjurkan untuk baca shalawat. Bidan pun secara istiqamah  mengamalkannya, dan dalam selang beberapa usang suaminya kembali seraya  bertobat.    Kiai Masduqie mempunyai sembilan putra\/putri ini yang di samping  sarjana juga sanggup  membaca kitab tiruana. Saat anak ia ada yang mau  ujian, di samping putranya juga disuruh baca shalawat, belaiu juga  membacakan shalawat untuk kelancaran dan kesuksesan putra-putrinya.    Kiai Masduqie pernah dawuh, \u201dBerkat shalawat Nabi SAW, tiruana yang  saya inginkan belum ada yang tidak dituruti oleh Allah. Belum ada  permintaan yang tidak dituruti berkat shalawat Nabi. Semua permintaan  saya terpenuhi berkat shalawat\u201d.     Inilah beberapa kisah fadhilah, \u00a0kehebatan, keajaiban dan khasiat bacaan sholawat  yang sangat luar biasa. Selain dijanjikan syafaat dari Nabi, ada  insentif-insentif lain bagi mereka yang senantiasa mengamalkan dzikir  sholawat Nabi ini.    Mari selalu biasakan bersholawat. Shallu \u2018alan Nabi Muhammad! Allahumma shalli wa sallim \u2018ala sayyidina Muhammad. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Membaca Sholawat Nabi menawarkan kecintaan seorang muslim kepada nabinya. Shalawat Nabi memang salah satu dzikir yang sangat dianjurkan menjadi amalan rutin bagi siapa saja. Karena sholawat yakni perintah pribadi dari Allah yang termaktub dalam al-Qur\u2019an. Bahkan dinyatakan dalam ayat itu bahwa Allah dan para Malaikat-Nya pun bersholawat kepada Nabi.\u00a0 Melihat ini tentu bacaan sholawat ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":996,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-995","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kisah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/995","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=995"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/995\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":997,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/995\/revisions\/997"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/996"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=995"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=995"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=995"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}