{"id":992,"date":"2020-07-07T01:20:56","date_gmt":"2020-07-07T01:20:56","guid":{"rendered":"http:\/\/campsholawat.com\/?p=992"},"modified":"2020-07-07T01:20:58","modified_gmt":"2020-07-07T01:20:58","slug":"ternyata-dahsyat-sekali-bersholawat-kepada-nabi-muhammad-saw","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/ternyata-dahsyat-sekali-bersholawat-kepada-nabi-muhammad-saw\/","title":{"rendered":"Ternyata Dahsyat Sekali Bersholawat Kepada Nabi Muhammad SAW"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> Kisah ini diambil dari Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar dari  Mesir, beliau bercerita tentang seorang yang terbelit banyak hutang di  tengah kubangan kemiskinannya. Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya  raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini. Setiap  hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang. Akhirnya ia  terpaksa pergi menjumpai seorang saudagar kaya dan meminjam uang  sebanyak 500 dinar. <br> Saking terkenalnya kebangkrutannya dan sudah banyak hutang sampai-sampai saudagar ini bertanya, &#8220;Kira-kira kapan anda akan melunasi pinjaman ini ?&#8221;<br><br> \u201dMinggu depan tuan.\u201d jawabnya singkat.<br><br> Ia pun berhasil meminjam hutang lalu pulang dengan 500 dinar di  genggamannya. Uang itu segera dia bayarkan kepada orang-orang yang  setiap hari datang menagih hutang kepadanya sampai 500 dinar yang ia  peroleh itu tidak tersisa sama sekali. <br> Hari demi hari ia bertambah sulit dan terpuruk kondisi ekonominya hingga  tempo pembayaran hutangnya pun tiba. Saudagar yang meminjamkan uang itu  mendatangi rumah si miskin dan mengatakan, \u201dTempo hutang anda telah  tiba.\u201d <br> Dengan suara lirih dia menjawab, \u201dDemi Allah saya sedang tak berhasil  mendapatkan apa-apa untuk membayar. Tapi sungguh saya terus berusaha  untuk melunasi.\u201d <br> Saudagar itu merasa geram lalu mengadukannya ke pengadilan, dan membawanya ke hakim.<br> Di pengadilan, Hakim bertanya:<br> \u201dMengapa anda tidak membayar hutang anda ?\u201d<br><br> Dia menjawab, \u201dDemi Allah saya tidak memiliki apa-apa tuan.\u201d<br><br> Karena merasa ini adalah kesalahan si miskin maka hakim memvonisnya dengan hukuman penjara sampai ia bisa melunasi hutangnya. <br> Kemudian si miskin bangkit dan berkata, \u201dWahai tuan Hakim, berilah saya  waktu untuk hari ini saja. Saya hendak pulang ke rumah untuk berjumpa  keluarga dan mengabarkan hukuman ini sekalian berpamitan dengan mereka,  kemudian saya akan langsung kembali untuk menjalani hukuman penjara.&#8221; <br> Hakim meragukannya, \u201dBagaimana mungkin, apa jaminannya kau akan kembali besok ?&#8221;<br><br> Lelaki itu terdiam, tapi seolah mendapat ilham di benaknya. &#8220;Rasulullah  SAW jaminanku, wahai tuan hakim, bersaksilah untukku jika besok aku  tidak kembali maka aku bukanlah termasuk umat Rasulullah SAW.\u201d <br> Sang Hakim tersentak diam, ia sadar betapa bahayanya jaminan itu jika si  miskin bohong. Hakim berfikir sejenak lalu memilih untuk percaya demi  Rasulullah SAW. Hukuman pun ditunda sampai besok. <br> Sesampainya di rumah, si miskin mengabarkan kondisinya kepada istrinya  bahwa esok akan dipenjara. Istrinya bertanya : \u201dKok sekarang engkau bisa  bebas ?&#8221; <br> \u201dAku menaruh nama Rasulullah SAW sebagai jaminanku.\u201d jawabnya.<br><br> Air hangat menetes dari mata istrinya seraya ia berkata pada suaminya,  \u201dJika nama Rasulullah SAW yang menjadi jaminan bagimu maka mari kita  bershalawat.&#8221; Dan mereka pun bershalawat kepada Rasulullah SAW dengan  rasa cinta dan ketulusan yang mendalam hingga mereka tertidur. <br> Tiba-tiba dalam tidurnya mereka bermimpi melihat Rasulullah SAW. Beliau  memanggil nama si miskin seraya berkata, \u201dHai fulan jika telah terbit  fajar pergilah ke tempat Alim fulan. Sampaikan salamku padanya dan  mintalah supaya ia menyelesaikan hutang piutangmu. Jika Alim itu tidak  percaya maka sampaikan 2 bukti ini, pertama, katakan padanya bahwa  dimalam pertama ia sudah membaca shalawat untukku 1000 kali, dan dimalam  terakhir dia telah ragu dalam jumlah bilangan shalawat yang dibacanya.  Sampaikan padanya bahwa ia telah menyempurnakan shalawatnya.&#8221; <br> Seketika itu juga si miskin langsung terbangun dan terkejut. Tanpa ragu  setelah subuh ia pergi menuju rumah sang Alim dan berjumpa dengannya.  Tanpa buang waktu si miskin menyampaikan mimpinya, \u201dWahai tuan,  Rasulullah SAW telah menitipkan salam untukmu dan meminta agar engkau  sudi menyelesaikan hutang piutangku.\u201d <br> Alim itu bertanya, \u201dApa bukti dari kebenaran mimpimu itu ?\u201d<br><br> \u201dKata baginda Nabi, di malam pertama engkau telah bershalawat sebanyak  1000 x dan dimalam kedua anda tertidur dalam keadaan ragu dengan jumlah  bilangan shalawat yang telah anda baca. Rasulullah SAW mengatakan bahwa  hitungan shalawat anda telah sempurna, dan shalawat anda telah diterima  olehnya.\u201d <br> Mendengar itu, Alim itu spontan menangis karena berita gembira  shalawatnya diterima Rasulallah SAW. Maka alim tersebut memberi uang 500  dinar dari baitul mal untuk melunasi hutang si miskin dan 2500 dari  harta pribadinya untuk si miskin sebagai tanda terima kasih atas berita  gembira yang disampaikan. <br> Dengan dana itu si miskin langsung bergegas pergi ke Hakim untuk menyelesaikan perkaranya.\u00a0Sesampainya  di pengadilan, si Hakim bangkit dari kursinya menyambut si miskin  seakan sudah rindu. Dengan senyum lebar sang Hakim memanggilnya seraya  berkata: \u201dKemarilah, berkat kamu aku mimpi berjumpa Rasulullah SAW. Rasulullah  SAW telah berpesan kepadaku bahwa jika aku menyelesaikan hutangmu maka  kelak Rasulullah SAW akan menyelesaikan perkaraku di akhirat. Ini uang  500 dinar untuk lunasi hutang-hutangmu.&#8221; <br> Belum juga Hakim selesai bicara, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk.  Ketika dibuka, ternyata saudagar penagih hutang. Dia langsung memeluk si  miskin dan menciumnya sembari berucap, \u201dBerkat anda saya mimpi berjumpa  Rasulullah. Beliau berkata padaku jika aku merelakan hutangmu maka  kelak di hari kiamat,Rasulullah SAW akan merelakan segala tanggunganku  dan ini uang 500 dinar hadiah untuk anda dan hutangmu lunas.&#8221; <br> \u201dSesungguhnya Allah dan para Malaikat-Nya bersalawat kepada Nabi  (Muhammad S.A.W) maka wahai orang-orang yang beriman bersalawatlah kamu  kepadanya serta ucapkanlah salam sejahtera dengan penghormatan yang  sepenuhnya.\u201d (Al Ahzab;56) <br> Semoga kisah diatas menambah kecintaan kita kepada Nabi Muhammad SAW sebagai kekasih dan Rosul Allah SAW..<br><br> \u0627\u0644\u0644\u0651\u0647\u0645\u0651 \u0635\u0644\u0651 \u0648 \u0633\u0644\u0651\u0645 \u0648 \u0628\u0627\u0631\u0643 \u0639\u0644\u0649 \u0633\u064a\u0651\u062f\u0646\u0627 \u0645\u062d\u0645\u0651\u062f \u0648 \u0639\u0644\u0649 \u0622\u0644 \u0633\u064a\u0651\u062f\u0646\u0627 \u0645\u062d\u0645\u0651<br><br> Semoga kita senantiasa selalu diakui sebagai umatnya  dan pantas mendapat berkah dan syafaatnya kelak di yaumil akhir. Aamiin  yarabbal alamiin. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kisah ini diambil dari Syeikh Husna Syarif, seorang ulama besar dari Mesir, beliau bercerita tentang seorang yang terbelit banyak hutang di tengah kubangan kemiskinannya. Dulunya dia adalah orang yang sangat kaya raya namun jatuh bangkrut sampai terbelit hutang sana sini. Setiap hari, rumahnya penuh dengan orang yang menagih hutang. Akhirnya ia terpaksa pergi menjumpai seorang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":993,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-992","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kisah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/992","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=992"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/992\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":994,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/992\/revisions\/994"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/993"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=992"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=992"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=992"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}