{"id":19798,"date":"2023-12-28T06:42:24","date_gmt":"2023-12-28T06:42:24","guid":{"rendered":"http:\/\/campsholawat.com\/?p=19798"},"modified":"2023-12-28T06:42:25","modified_gmt":"2023-12-28T06:42:25","slug":"air-mata-cinta-memadamkan-api-neraka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/air-mata-cinta-memadamkan-api-neraka\/","title":{"rendered":"Air Mata Cinta Memadamkan Api Neraka"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cTiada pelupuk mata yang tergenangi dengan air mata melainkan pasti diharamkan jasadnya dari neraka, dan tiada air mata yang mengalir pada pipi melainkan akan dihapuskan daripadanya suatu kotoran dan kehinaan, dan apabila ada seseorang di antara umat yang menangis niscaya mereka akan dirahmati. Tiada suatu amal pun kecuali bernilai seperti kadar dan timbangannya, kecuali tetesan air mata., Sesungguhnya air mata itu dapat memadamkan samudera api neraka.<br>\nAir mata itu bukti kasih sayang yang ditanamkan oleh Allah di hati hamba-hamba-Nya. Sesungguhnya Allah menyayangi hamba-hamba-Nya yang penyayang\u201c<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">(HR.Bukhari dan Muslim )<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Siti Aisyah RA bertanya kepada Rasulullah saw, \u201cApakah ada umatmu yang nanti masuk surga tanpa hisab? \u201c Beliau saw menjawab, \u201cAda, yaitu orang yang mengenang dosanya lalu ia menangis.\u201c Dalam hadis lain Utusan Allah itu bersabda, \u201cPengakuan seorang hamba kepada Allah atas dosa-dosa yang dilakukannya lebih disukai Allah dari pada ibadah.\u201c Hadis senada diriwayatkan oleh Abdullah bin Man\u2019ud, bahwa Nabi akhir zaman ini bersabda, \u201cLinangan air mata seorang mukmin karena takut kepada Allah lebih baik daripada ibadah satu tahun.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bertafakur tentang kebesaran dan kekuasaan Allah sesaat lebih baik daripada puasa enam puluh hari dan salat enam puluh malam. Bukankah Allah memiliki para malaikat yang menyeru setiap siang dan malam?\u201d Zaid bin Arqam meriwayatkan. Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah saw, \u201cWahai Rasulullah! Bagaimana caranya aku menghindar dari neraka?\u201c Nabi saw menjawab, \u201cDengan linangan air matamu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesunggguhnya kedua mata yang menangis karena takut pada Allah tidak akan tersentuh api neraka\u201c (HR.Ibnu Abi Dunya dan Al-Ashbahani). Ketika Rasulullah saw mendengar diantara sahabat menangis lantaran takut kepada Allah, beliau bersabda \u201cTidaklah masuk neraka orang yang menangis karena takut kepada Allah, dan tidaklah masuk surga orang yang terus menerus berbuat maksiat kepada Allah.\u201c<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Abu Hazim berkata, \u201cJibril AS turun kepada Nabi saw yang disisinya ada seorang lelaki yang sedang menangis. Jibril bertanya kepada Nabi saw \u2018Siapa ini?\u2019 Nabi saw menjawab, \u2018Ia adalah si Fulan.\u2018 Kemudian Jibril as berkata, \u201cSesungguhnya kami menimbang amal-amal anak Adam semuanya kecuali tangisan. Sesungguhnya Allah memadamkan lautan api neraka jahanam dengan setetes air mata.\u2018<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201d Dalam satu hadis yang diriwayatkan oleh imam Tirmizi, Rasul saw bersabda \u201cTidak ada yang lebih dicintai Allah swt selain dua tetes dan dua bekas kaki : tetesan air mata yang menangis karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang ditumpahkan di jalan Allah. Sedangkan dua bekas kaki adalah bekas ( perjuangan ) di jalan Allah, dan bekas melakukan kewajiban yang diwajibkan Allah.\u201c<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Umar bin Khattab ra terkenal sebagai orang yang sangat keras, pemberani, dan ditakuti musuh-musuhnya, tetapi dalam setiap ibadah, hatinya selalu khusyuk dan air matanya mengalir deras. Pada wajah Umar terdapat garis hitam seperti tali karena banyaknya menangis. Bahkan pernah pada suatu malam, ketika berzikir dan membaca sebuah ayat, ia menangis tersedu-sedu sampai tersungkur jatuh. Ia terus berada di rumahnya sehingga orang-orang menyangka ia sedang sakit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Terkait ini bukankah Allah swt telah berfirman, \u201cDan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk \u201c (Al Isra\u2019 (17 ) : 109). Shalahuddin al Ayyubi, orang yang membebaskan Masjid al Aqsa dari kaum Muysrikin merupakan hamba Allah yang sangat tekun menunaikan salat tahajjud di sepertiga malam hingga matanya berlinang air mata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Imam Al Qurthubi, \u201cMenangis bisa menjadi tanda bagi ketakutan atau kerinduan seorang hamba kepada Rabb-nya. Hamba menangis karena takut Allah, ketika Dia menunjukkan keagungan-Nya. Hamba menangis karena rindu, apabila ia mendengar keindahan sifat Allah.\u201c Menangis bisa juga digunakan oleh seseorang untuk menutupi kesalahannya. Tangis dengan motivasi seperti ini pernah dilakukan oleh putra Nabi Ya\u2019kub<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\u201cKemudian mereka datang kepada ayah mereka di sore hari sambil menangis\u201c (Yunus 16). Malik bin Dinar berkata, \u201cMenangis karena menyesali kesalahan mengeringkan kesalahan itu, sebagaimana angin mengeringkan daun basah.\u201c<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Subhanallah! Orang-orang yang banyak menangis karena cinta dan takut kepada Allah, niscaya hatinya senantiasa diselimuti aura kekhusyuan, kelembutan dan kasih sayang. Kekuatan hati itulah yang kemudian mewarnai seluruh pikiran dan perbuatannya. Ketika ia salat, maka salatnya akan selalu khusyuk, ketika ia bekerja, maka ia bekerja dengan penuh konsentrasi (khusyuk) dan jujur\u2026<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cTiada pelupuk mata yang tergenangi dengan air mata melainkan pasti diharamkan jasadnya dari neraka, dan tiada air mata yang mengalir pada pipi melainkan akan dihapuskan daripadanya suatu kotoran dan kehinaan, dan apabila ada seseorang di antara umat yang menangis niscaya mereka akan dirahmati. Tiada suatu amal pun kecuali bernilai seperti kadar dan timbangannya, kecuali tetesan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":19799,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3],"tags":[],"class_list":["post-19798","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hikmah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19798","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19798"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19798\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19800,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19798\/revisions\/19800"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/19799"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19798"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19798"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19798"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}