{"id":18750,"date":"2023-03-09T03:12:51","date_gmt":"2023-03-09T03:12:51","guid":{"rendered":"http:\/\/campsholawat.com\/?p=18750"},"modified":"2023-03-09T03:12:53","modified_gmt":"2023-03-09T03:12:53","slug":"pesan-abah-guru-sekumpul-kenapa-allah-swt-mengangkat-hambanya-jadi-waliyullah-di-bulan-syaban","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/pesan-abah-guru-sekumpul-kenapa-allah-swt-mengangkat-hambanya-jadi-waliyullah-di-bulan-syaban\/","title":{"rendered":"PESAN ABAH GURU SEKUMPUL :   KENAPA ALLAH SWT MENGANGKAT HAMBANYA JADI WALIYULLAH DI BULAN SYA&#8217;BAN ?"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Abah Guru Sekumpul adalah sosok Wali ALLAH SWT (Wali Quthub) pemimpin para Wali dizamannya, yang dikenal sangat khusyu\u2019 dalam ibadahnya. Kalau sudah melantunkan sholawat, getaran hati sungguh terasa. Demikian juga dalam berbagai ritual ibadah lainnya. Termasuk diantaranya ketika bulan Sya\u2019ban, Abah Guru Sekumpul memaknainya dengan penuh keistimewaan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menurut Abah Guru Sekumpu, bulan Sya\u2019ban adalah bulannya Kekasih hati Rasulullah. Di bulan Sya\u2019ban ini, ALLAH SWT banyak mengangkat derajat hambanya menjadi kekasih (Auliyah) ALLAH. Itu disebabkan orang itu banyak membaca shalawat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berapa banyak di dunia ini yang sudah menjadi Auliya ALLAH SWT kebanyakannya disebabkan ia banyak membaca Shalawat dan itu di bulan Sya\u2019ban. Salah satu contohnya, bahwasanya Syeikh Fudhail bin Iyadh dulu beliau seorang perampok akan tetapi beliau Mendapat Hidayah sehingga Bertaubat dan di bulan Sya\u2019ban beliau diangkat ALLAH SWT menjadi Kekasihnya Auliya ALLAH.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penjelasan ini disampaikan Abah Guru Sekumpul dalam suatu pengajian beliau di tahun 2003.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Al-Faqir (penulis) juga mendapatkan penjelasan dari seorang Guru di Pondok Pesantren Darussalam Martapura yang berpesan kepada murid-muridnya, khususnya Alfaqir sendiri, bahwa di bulan Sya\u2019ban ini perbanyaklah shalawat 2\u00d7 lipat dari shalawat yang diamalkan di bulan Lain.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Maksudnya, jika kita bershalawat di bulan lain 100\u00d7 sehari, maka di bulan Sya\u2019ban ini lipatkan jadi 2\u00d7 lipat menjadi 200\u00d7 sehari. Taubatlah dari segala dosa, minimal ingat akan dosa dan merasa paling banyak dosa dan paling hina di muka bumi ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan itu semua, pasti Rasulullah akan memberikan syafa\u2019atnya kepada kita. Syafa\u2019at Rasulullah yaitu surga. Dan juga beliau berpesan untuk memperbanyak shadaqoh di bulan Sya\u2019ban, terutama bershadaqoh kepada anak yatim, Shadaqoh kepada anak yatim adalah salah satu amalan Rasulullah dan fadhilahnya adalah do\u2019a cepat qobul.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mudah-mudahan berkat Rasulullah, berkat Datu Kalampayan, berkat Guru Sekumpul, para wali dan orang-orang sholeh, diampuni segala dosa dzohir bathin seumur hidup, qobul segala hajat, selamat dunia akhirat, husnul khatimah dan masuk surga bighoiri hisaab. Aamiin<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis: Muhammad Zainuddin bin H.AbdurRahman, santri Abah Guru Sekumpul.<br> \u0627\u0644\u0644\u0647\u0645 \u0635\u0644 \u0639\u0644\u0649 \u0633\u064a\u062f\u0646\u0627 \u0645\u062d\u0645\u062f \u0648\u0639\u0644\u0649 \u0622\u0644\u0647 \u0633\u064a\u062f\u0646\u0627 \u0645\u062d\u0645\u062f<br> <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Abah Guru Sekumpul adalah sosok Wali ALLAH SWT (Wali Quthub) pemimpin para Wali dizamannya, yang dikenal sangat khusyu\u2019 dalam ibadahnya. Kalau sudah melantunkan sholawat, getaran hati sungguh terasa. Demikian juga dalam berbagai ritual ibadah lainnya. Termasuk diantaranya ketika bulan Sya\u2019ban, Abah Guru Sekumpul memaknainya dengan penuh keistimewaan. Menurut Abah Guru Sekumpu, bulan Sya\u2019ban adalah bulannya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":18751,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[3,4],"tags":[],"class_list":["post-18750","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-hikmah","category-kisah"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18750","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=18750"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18750\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":18752,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/18750\/revisions\/18752"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media\/18751"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=18750"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=18750"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=18750"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}