{"id":926,"date":"2020-02-07T09:17:46","date_gmt":"2020-02-07T09:17:46","guid":{"rendered":"http:\/\/campsholawat.com\/?page_id=926"},"modified":"2020-02-07T09:17:46","modified_gmt":"2020-02-07T09:17:46","slug":"keajaiban-sholawat-kisah-imam-sufyan-ats-tsauri-dan-anak-tukang-riba","status":"publish","type":"page","link":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/keajaiban-sholawat-kisah-imam-sufyan-ats-tsauri-dan-anak-tukang-riba\/","title":{"rendered":"Keajaiban Sholawat: Kisah Imam Sufyan ats-Tsauri dan Anak Tukang Riba"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai Dzat Yang Maha Segalanya, Allah Swt \ntentu saja tidak malaksanakan Ibadah sebagaimana kita mahlukNya. Allah \nSwt tentu saja tidak shalat, tidak puasa dan juga tidak berhaji.   <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun ada satu ibadah yang Allah dan para MalaikatNya juga melakukannya, yaitu membawa Sholawat Nabi.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"> \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0671\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064e \u0648\u064e\u0645\u064e\u0644\u064e\u0670\u0653\u0626\u0650\u0643\u064e\u062a\u064e\u0647\u064f\u06e5 \u064a\u064f\u0635\u064e\u0644\u064f\u0651\u0648\u0646\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0671\u0644\u0646\u064e\u0651\u0628\u0650\u0649\u0650\u0651 \u06da \u064a\u064e\u0670\u0653\u0623\u064e\u064a\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627 \u0671\u0644\u064e\u0651\u0630\u0650\u064a\u0646\u064e \u0621\u064e\u0627\u0645\u064e\u0646\u064f\u0648\u0627\u06df \u0635\u064e\u0644\u064f\u0651\u0648\u0627\u06df \u0639\u064e\u0644\u064e\u064a\u0652\u0647\u0650 \u0648\u064e\u0633\u064e\u0644\u0650\u0651\u0645\u064f\u0648\u0627\u06df \u062a\u064e\u0633\u0652\u0644\u0650\u064a\u0645\u064b\u0627 &#8220;Sesungguhnya  Allah dan Malaikat-Malaikat-Nya bersholawat untuk Nabi. Hai orang-orang  yang beriman, bersholawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam  penghormatan kepadanya.&#8221; (Al-Ahzaab: 56) Nabi saw. bersabda : &#8220;Dan kalau kamu membaca  Sholawat , maka bacalah dengan penuh penghormatan untuk ku.&#8221;  Membaca  Sholawat  untuk mencintai dan memuliakan Nabi saw. Siti Aisyah  ra. berkata : &#8220;Barangsiapa cinta kepada Allah Ta&#8217;ala, maka dia banyak  menyebutnya dan buahnya ialah Allah akan mengingat dia, juga memberi  rahmat dan ampunan kepadanya, serta memasukannya ke surga bersama para  Nabi dan para wali. Dan Allah memberi kehormatan pula kepadanya dengan  melihat keindahan-Nya. Dan barang siapa cinta kepada Nabi saw., maka  hendaklah ia banyak membaca  Sholawat   untuk Nabi saw., dan buahnya ialah  ia akan mendapat syafaat dan akan bersama beliau di surga.&#8221; Selanjutnya  Nabi saw., bersabda : Barang siapa membaca  Sholawat   untuk ku karena  memuliakanku, maka Allah Ta&#8217;ala menciptakan dari kalimat ( Sholawat ) itu  satu malaikat yang mempunyai dua sayap, yang satu di timur dan satunya  lagi di barat. Sedangkan kedua kakinya di bawah bumi sedangkan lehernya  memanjang sampai ke Arary. Allah Ta&#8217;ala berfirman kepadanya :&#8221;Bacalah   Sholawat  untuk hamba-Ku, sebagaimana dia telah membaca  Sholawat  untuk  Nabi-Ku. Maka Malaikat pun membaca  Sholawat  untuknya sampai Hari  Kiamat.&#8221; Allah SWT memberi salam kepada setiap orang yang memberi salam  kepada Nabi saw., sebagaimana beliau bersabda : \u201cSaya berjumpa Jibril,  maka dia berkata : \u2018Sesungguhnya saya memberi kabar gembira kepadamu  bahw sesungguhnya Allah Ta\u2019ala telah berfirman: \u2018Barangsiapa memberi  salam kepadamu, maka Aku memberi salam kepadanya dan barang siapa  membaca  Sholawat  untukmu, maka Aku membaca  Sholawat  untuknya\u2019.\u201d  Sahabatku rahimakumullah  Sholawat  Nabi SAW dipercaya telah menjadi  syafaat, rahmat, berkah, dan obat yang orisinil untuk menyelamatkan  kehidupan seseorang baik di dunia maupun di akhirat. Bahkan kerap kali   Sholawat  ini memutarbalikkan sebuah fakta inderawi. Berikut sebuah kisah  yang bertutur tentang keajaiban  Sholawat  dari Ulama Besar, Imam Sufyan  Ats-Tsauri..<br><br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Sufyan \nAts-Tsauri adalah pemimpin ulama-ulama Islam dan gurunya. Nama \nlengkapnya adalah: Sufyan bin Said bin Masruq bin Rafi\u2019 bin Abdillah bin\n Muhabah bin Abi Abdillah bin Manqad bin Nashr bin Al-Harits bin \nTsa\u2019labah bin Amir bin Mulkan bin Tsur bin Abdumanat Adda bin Thabikhah \nbin Ilyas.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Imam Sufyan Ats-Tsauri lahir pada tahun 77 H. di Kufah pada masa khalifah Sulaiman bin Abdul Malik.  <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">  Imam Sufyan ats-Tsauri menuturkan, \u201c Aku pergi haji. Manakala Tawaf di  Ka\u2019bah, aku melihat seoerang pemuda yang tak berdoa apapun selain hanya  bersholawat kepada Nabi SAW. Baik ketika di Ka\u2019bah, di Padang Arafah, di  mudzdalifah dan Mina, atau ketika tawaf di Baytullah, doanya hanayalah  sholawat kepada Baginda Nabi SAW.\u201d Saat kesempatan yang tepat  datang, aku berkata kepadanya dengan hati-hati, \u201cSahabatku, ada doa  khusus untuk setiap tempat. Jikalau engkau tidak mengetahuinya,  perkenankanlah aku mengajarimu.\u201d Namun, dia berkata, \u201cAku tahu semuanya.  Izinkan aku menceritakan apa yang terjadi padaku agar engkau mengerti  tindakanku yang aneh ini.\u201d \u201cAku berasal dari Khurasan. Ketika para  jamaah haji mulai berangkat meninggalkan daerah kami, ayahku dan aku  mengikuti mereka untuk menunaikan kewajiban agama kami. Naik turun  gunung, lembah, dan gurun. Kami akhirnya memasuki kota Kufah. Disana  ayahku jatuh sakit, dan pada tengah malam dia meninggal dunia. Dan aku  mengkafani jenazahnya. Agar tidak mengganggu jemaah lain, aku duduk  menangis dalam batin dan memasrahkan segala urusan pada Allah SWT.  Sejenak kemudian, aku merasa ingin sekali menatap wajah ayahku, yang  meninggalkanku seorang diri di daerah asing itu. Akan tetapi, kala aku  membuka kafan penutup wajahnya, aku melihat kepala ayahku berubah jadi  kepala keledai. Terhenyak oleh pemandangan ini, aku tak tahu apa yang  mesti kulakukan. Aku tidak dapat menceritakan hal ini pada orang lain.  Sewaktu duduk merenung, aku seperti tertidur. Lalu, pintu tenda kami  terbuka, dan tampaklah sesosok orang bercadar. Seraya membuka penutup  wajahnya, dia berkata, \u201cAlangkah tampak sedih engkau! Ada apakah  gerangan?\u201d Aku pun berkata, \u201cTuan, yang menimpaku memang bukan sukacita.  Tapi, aku tak boleh meratap supaya orang lain tak bersedih.\u201d Lalu orang  asing itu mendekati jenazah ayahku, membuka kain kafannya, dan mengusap  wajahnya. Aku berdiri dan melihat wajah ayahku lebih berseri-seri  ketimbang wajah tuanya. Wajahnya bersinar seperti bulan purnama. Melihat  keajaiban ini, aku mendekati orang itu dan bertanya, \u201cSiapakah Anda,  wahai kekasih kebaikan?\u201d Dia menjawab, \u201cAku Muhammad al Musthafa\u201d  (semoga Allah melimpahkan kemuliaan dan kedamaian kepada Rasul  pilihanNya). Mendengar perkataan ini, aku pun langsung berlutut di  kakinya, menangis dan berkata, \u201cMasya Allah, ada apa ini? Demi Allah,  mohon engkau menjelaskannya ya Rasulullah.\u201d Kemudian dengan lembut  beliau Saw berkata, \u201cAyahmu dulunya tukang riba. Baik di dunia ini  maupun di akhirat nanti, wajah tukang riba berubah menjadi wajah  keledai, tetapi disini Allah Yang Maha Agung mengubah lagi wajah ayahmu.  Ayahmu dulu mempunyai sifat dan kebiasaan yang baik. Setiap malam  sebelum tidur, dia melafalkan sholawat seratus kali untukku. Saat  diberitahu perihal nasib ayahmu, aku segera memohon izin Allah untuk  memberinya syafaat karena  Sholawat nya kepadaku. Setelah diizinkan, aku  datang dan menyelamatkan ayahmu dengan syafaatku.\u201d Sufyan menuturkan,  \u201cAnak muda itu berkata, \u201cSejak saat itulah aku bersumpah untuk tidak  berdoa selain  Sholawat  kepada Rasulullah, sebab aku tahu hanya  Sholawatlah yang dibutuhkan manusia di dunia dan di akhirat.\u201d Dalam  sebuah riwayat, Rasulullah SAW telah bersabda bahwa, \u201cMalaikat Jibril,  Mikail, Israfil, dan Izrail Alaihumus Salam telah berkata kepadaku.  Jibril As. berkata, \u201cWahai Rasulullah, siapa yang membaca sholawat  atasmu tiap-tiap hari sebanyak sepuluh kali, maka akan kubimbing  tangannya dan akan ku bawa dia melintasi titian seperti kilat  menyambar.\u201d Berkata pula Mikail As., \u201cMereka yang bersholawat atasmu  akan aku beri mereka itu minum dari telagamu.\u201d Dan Israfil As. berkata  pula, \u201cMereka yang bersholawat kepadamu, maka aku akan bersujud kepada  Allah SWT dan aku tidak akan mengangkat kepalaku sehingga Allah SWT  mengampuni orang itu.\u201d Kemudian Malaikat Izrail As. pun berkata, \u201dBagi  mereka yang bersholawat atasmu, akan aku cabut ruh mereka itu dengan  selembut-lembutnya seperti aku mencabut ruh para nabi.\u201d Bagaimana kita  tidak cinta kepada Rasulullah SAW? Sementara para malaikat memberikan  jaminan masing-masing untuk orang-orang yang bersholawat atas Rasulullah  SAW. Sahabatku rahimakumullah Dengan kisah yang dikemukakan di atas,  semoga kita tidak akan melepaskan peluang untuk selalu bersholawat  kepada pemimpin kita, cahaya dan pemberi syafaat kita, Nabi Muhammad  SAW. Mudah-mudahan kita menjadi orang-orang kesayangan Allah SWT, Rasul,  dan para MalaikatNya. Semoga sholawat, salam, serta berkah senantiasa  tercurah ke hadirat Nabi kita, Rasul kita, cahaya kita, dan imam kita,  Muhammad al Musthafa SAW beserta seluruh keluarga, dan sahabat-sahabat  beliau yang mengikutinya, dan seluruh kaum mukmin yang senantiasa untuk  melazimkan bersholawat kepada beliau. Amin.<br><br><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Allahumma shali ala sayyidina Muhammad wa ala ali sayyidina Muhammad <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebagai Dzat Yang Maha Segalanya, Allah Swt tentu saja tidak malaksanakan Ibadah sebagaimana kita mahlukNya. Allah Swt tentu saja tidak shalat, tidak puasa dan juga tidak berhaji. Namun ada satu ibadah yang Allah dan para MalaikatNya juga melakukannya, yaitu membawa Sholawat Nabi. Allah Subhanahu wa ta&#8217;ala berfirman: \u0625\u0650\u0646\u064e\u0651 \u0671\u0644\u0644\u064e\u0651\u0647\u064e \u0648\u064e\u0645\u064e\u0644\u064e\u0670\u0653\u0626\u0650\u0643\u064e\u062a\u064e\u0647\u064f\u06e5 \u064a\u064f\u0635\u064e\u0644\u064f\u0651\u0648\u0646\u064e \u0639\u064e\u0644\u064e\u0649 \u0671\u0644\u0646\u064e\u0651\u0628\u0650\u0649\u0650\u0651 \u06da \u064a\u064e\u0670\u0653\u0623\u064e\u064a\u064f\u0651\u0647\u064e\u0627 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"parent":0,"menu_order":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","template":"","meta":{"footnotes":""},"class_list":["post-926","page","type-page","status-publish","hentry"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/926","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/pages"}],"about":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/types\/page"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=926"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/926\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":927,"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/pages\/926\/revisions\/927"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/campsholawat.com\/artikel\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=926"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}