MASALAH MIMPI MELIHAT NABI SAW

Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa melihatku dalam mimpi maka ia seakan melihatku ketika terjaga. Setan tidak dapat meniru wujudku.”

Maka dari itu, siapa memimpikan Nabi SAW, berarti ia telah melihat beliau dengan sebenarnya tanpa sedikit pun keraguan. Berbeda dengan memimpikan orang lain, karena mungkin saja setan meniru wujud mereka untuk mencampuradukkan sejumlah hal kepada orang yang memimpikan wujud tersebut, atau dengan maksud untuk menjatuhkannya dalam fitnah dan kesesatan.

Bagaimana Anda mengetahui bahwa sosok yang dilihat dalam mimpi adalah Nabi SAW?

Para ulama menjelaskan bahwa orang yang bermimpi bisa mengetahui apakah sosok yang ia lihat di dalam mimpi Nabi SAW atau bukan melalui tiga hal berikut;

Pertama; sosok yang ia lihat di dalam mimpi berkata kepadanya misalnya, “Aku Rasulullah,” “Aku Muhammad bin Abdullah,” “Aku nabimu,” atau kata-kata semakna lainnya.

Kedua; orang yang melihat sosok tersebut yakin bahwa sosok yang ia lihat dalam mimpi itu nabi Muhammad SAW, tanpa diberitahukan oleh siapapun.

Ketiga; ada orang lain berkata kepadanya dalam mimpi, “Orang yang engkau lihat itu, orang yang berbicara kepadamu, orang yang sebentar lagi akan berbicara kepadaku, orang yang sebentar lagi akan masuk menemuimu adalah Nabi SAW,” baik ia memimpikan orang tersebut, atau mendengar suaranya saja.

Berdasarkan tiga hal ini –atau hal-hal lain- orang yang bermimpi yakin bahwa sosok yang ia lihat di dalam mimpinya adalah nabi Muhammad SAW tanpa sedikit pun keraguan, dan ia percaya pada mimpi yang ia alami itu.

Mimpi dan Hukum-hukum syar’i

Mimpi yang baik termasuk salah satu kabar gembira yang dipertahankan Allah ‘Azza wa Jalla hingga hari kiamat untuk meneguhkan jiwa, menenangkan kalbu, ucapan selamat yang didahulukan dan berita gembira yang disegerakan.

Nabi SAW bersabda, “Tidak ada lagi yang tersisa dari kabar gembira nubuwah selain mimpi yang baik, yang dilihat seorang hamba saleh, atau dilihat (orang lain) untuknya.”
HR. Muslim, hadits nomor 1075, lafal hadits miliknya, An-Nasa`i, hadits nomor 1044, dan Ibnu Hibban, hadits nomor 1900.

Hanya saja mimpi tidak memberlakukan suatu hukum syar’i pun, tapi hanya sebagai pelengkap saja, karena hukum-hukum syar’i sudah diturunkan kepada Nabi SAW secara sempurna sebelum beliau wafat dan agama Allah juga sudah sempurna.

Imam Ibnu Hajar menuturkan dalam Fathul Bary, “Perkataan Nabi SAW di dalam mimpi harus disesuaikan dengan sunnah beliau. Jika sesuai, berarti perkataan tersebut benar. Tapi jika tidak sesuai, yang salah adalah pendengaran orang yang bermimpi.”

Maka dari itu, siapa melihat Nabi SAW dalam mimpi, lalu Nabi SAW memerintahkan sesuatu kepadanya; perintah tersebut harus dicermati terlebih dahulu. Apabila perintah tersebut sesuai dengan yang beliau ucapkan semasa hidup beliau, juga diriwayatkan para perawi dari beliau dalam sunah dan sirah beliau; perintah tersebut bisa diamalkan. Tapi jika berseberangan dengan sunah dan sirah beliau, maka perintah tersebut harus ditakwilkan, atau mimpi tersebut dicarikan solusinya.

Catatan: 1.Mimpi Nabi adalah suatu anugerah Ilahi yang sangat mungkin diraih oleh setiap orang. 2.Berbohong atas mimpi adalah dosa yang terlaknat pelakunya. 3.Berbaik sangka sangat dianjurkan pada siapapun yang menceritakan tentang mimpinya melihat Nabi SAW, selagi dia bukan orang yang menghalalkan kebohongan. 4.Mimpi Nabi tidak bisa merubah syariat baik menghalalkan yang haram atau mengharamkan yang halal. Kezaliman,kebohongan, ingkar janji,membunuh org yg tdk bersalah,membenci keluarga Nabi dan sahabat adalah maksiat yg tdk akan bisa menjadi halal lewat mimpi. 5.Berburuk sangka pada muslim hukumnya haram, baik terkait mimpi atau yang lain. Siapa yang buruk prasangkanya buruk pula amalnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *